Tanjung Jabung Barat, 24 September 2026 - Dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan sektor perkebunan menghadapi ancaman musim kemarau, Stasiun Klimatologi Jambi sukses menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik. Kegiatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ini dilaksanakan di Ruang Pola Atas Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, Kamis (24/9/2026).
Pada penyelenggaraan tahun ini, SLI mengusung tema strategis, yakni "Tanggap Iklim Untuk Perkebunan Ramah Lingkungan dan Tangguh Hadapi Musim Kemarau." Tema ini diangkat sebagai respons atas dinamika perubahan iklim yang menuntut sektor perkebunan untuk tidak hanya produktif, namun juga berprinsip pada kelestarian alam dan ketahanan terhadap cuaca ekstrem.
Acara ini mendapat apresiasi penuh dari pemerintah daerah setempat. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Dr. H. Katamso SA, S.E., M.E., yang turut memberikan arahan sekaligus dukungan atas sinergi antar-lembaga dalam menghadapi tantangan iklim di daerahnya.
Kepala Stasiun Klimatologi Jambi, Darmadi, S.T., selaku penanggung jawab kegiatan menyampaikan bahwa pemahaman literasi iklim sangat krusial bagi langkah mitigasi di lapangan.
"Kegiatan Sekolah Lapang Iklim hari ini kami harapkan menjadi sarana bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk dapat lebih memahami informasi yang dikeluarkan oleh Stasiun Klimatologi Jambi." jelas Darmadi.
Keterlibatan instansi-instansi tersebut dinilai sangat tepat sasaran. Kolaborasi antara sektor perkebunan sebagai motor penggerak ekonomi dan instansi kebencanaan (BPBD dan Basarnas) sebagai garda terdepan penanganan kondisi darurat, diharapkan dapat menghasilkan strategi mitigasi yang komprehensif saat musim kemarau tiba—terutama dalam mencegah ancaman kekeringan maupun kebakaran lahan perkebunan.
Melalui Sekolah Lapang Iklim ini, para peserta dibekali kemampuan untuk memahami, membaca, dan memanfaatkan informasi cuaca maupun iklim secara optimal, serta teknik agar dapat mencegah terjadinya bencana akibat kekeringan. Diharapkan, ilmu yang diperoleh dapat langsung diimplementasikan di lapangan sehingga konsep perkebunan yang ramah lingkungan dan tangguh bencana di Tanjung Jabung Barat dapat benar-benar terwujud.



















